Sebelum kita membahas topik ini
lebih jauh lagi saya akan memberikan data dan fakta berikut:
158 kepala daerah tersangkut
korupsi sepanjang 2004-2011
42 anggota DPR terseret korupsi
pada kurun waktu 2008-2011
30 anggota DPR periode 1999-2004
terlibat kasus suap pemilihan DGS BI
Kasus korupsi terjadi diberbagai
lembaga seperti KPU,KY, KPPU, Ditjen Pajak, BI, dan BKPM
Sumber : Litbang Kompas
Kini setelah membaca fakta diatas,
apa yang ada dipikran anda? Cobalah melihat lebih ke atas sedikit, lebih
tepatnya judul artikel ini. Yah, itu adalah usulan saya untuk beberapa kasus
yang membuat hati di dada kita “terhentak” membaca kelakuan para pejabat
Negara.
Pendidikan karakter,
sekarang ini mutlak diperlukan bukan hanya di sekolah saja, tapi dirumah dan di lingkungan sosial. Bahkan sekarang ini
peserta pendidikan karakter bukan
lagi anak usia dini hingga
remaja, tetapi juga usia dewasa. Mutlak perlu untuk kelangsungan hidup Bangsa
ini.
Bayangkan apa persaingan yang muncul ditahun 2021? Yang
jelas itu akan menjadi beban kita dan orangtua masa kini. Saat itu, anak-anak
masa kini akan menghadapi persaingan dengan rekan-rekannya dari
berbagai belahan Negara di Dunia. Bahkan kita yang masih akan berkarya ditahun
tersebut akan merasakan perasaan yang sama. Tuntutan kualitas sumber daya
manusia pada tahun 2021 tentunya membutuhkan good character.
Bagaimanapun juga, karakter adalah
kunci keberhasilan individu. Dari sebuah penelitian di Amerika, 90 persen kasus
pemecatan disebabkan oleh perilaku buruk seperti tidak bertanggung jawab, tidak
jujur, dan hubungan interpersonal yang buruk. Selain itu, terdapat penelitian
lain yang mengindikasikan bahwa 80 persen keberhasilan seseorang di masyarakat ditentukan
oleh emotional quotient.
Bagaimana dengan bangsa kita?
Bagaimana dengan penerus orang-orang yang sekarang sedang duduk dikursi penting
pemerintahan negara ini dan yang duduk di kursi penting yang mengelola roda
perekonomian negara ini? Apakah mereka sudah menunjukan kualitas karakter yang
baik dan melegakan hati kita? Bisakah kita percaya, kelak tongkat estafet kita
serahkan pada mereka, maka mereka mampu menjalankan dengan baik atau justru
sebaliknya?
Dari sudut pandang psikologis,
saya melihat terjadi penurunan kulaitas “usia psikologis” pada anak yang berusia 21 tahun pada tahun
20011, dengan anak yang berumur 21 pada tahun 2001. Maksud usia psikologis
adalah usia kedewasaan, usia kelayakan dan kepantasan yang berbanding lurus
dengan usia biologis. Jika anak sekarang usia 21 tahun seakan mereka seperti
berumur 12 atau 11 tahun. Maaf jika ini mengejutkan dan menyakitkan.
Walau tidak semua, tetapi
kebanyakan saya temui memiliki kecenderungan seperti itu. Saya berulangkali
bekerjasama dengan anak usia tersebut dan hasilnya kurang maksimal. Saya tidak
“kapok” ber ulang-ulang bekerja sama dengan mereka. Dan secara tidak sengaja
saya menemukan pola ini cenderung berulang, saya amati dan evaluasi perilaku
dan karakter mereka. Kembali lagi ingat, disekolah pada umumnya tidak diberikan
pendidikan untuk mengatasi persaingan pada
dunia kerja. Sehingga ada survey yang mengatakan rata-rata setelah sekolah
seorang anak perlu 5-7 tahun beradaptasi dengan dunia kerja dan rata-rata dalam
5-7 tahun tersebut pindah kerja sampai 3-5 kali. Hmm.. dan proses seperti ini sering disebut dengan proses mencari jati diri. Pertanyaan saya
mencari “diri” itu didalam diri atau diluar diri? “saya cocoknya kerja apa ya?
Coba kerjain ini lah” lalu kalau tidak cocok pindah ke lainnya. Kenapa tidak
diajarkan disekolah, agar proses anak menjalani kehidupan di
dunia yang sesungguhnya tidak mengalami hambatan bahkan tidak jarang yang putus
asa karena tumbuh perasaan tidak mampu didalam dirinya dan seumur hidup
terpenjara oleh keyakinannya yang salah.
Baiklah kembali lagi ke topik,
Karakter merupakan nilai-nilai perilaku manusia yang berhubungan dengan
Tuhan Yang Maha Esa, diri sendiri, sesama manusia, lingkungan dan kebangsaan yang terwujud
dalam pikiran, sikap, perasaan, perkataan, dan perbuatan berdasarkan
norma-norma agama, hukum, tata krama, budaya dan adat istiadat.
Bagi Indonesia sekarang ini, pendidikan karakter juga
berarti melakukan usaha sungguh-sungguh, sitematik dan berkelanjutan untuk
membangkitkan dan menguatkan kesadaran serta keyakinan semua orang Indonesia
bahwa tidak akan ada masa depan yang lebih baik tanpa membangun dan menguatkan
karakter rakyat Indonesia. Dengan kata lain, tidak ada masa depan yang lebih
baik yang bisa diwujudkan tanpa kejujuran, tanpa meningkatkan disiplin diri,
tanpa kegigihan, tanpa semangat belajar yang tinggi, tanpa mengembangkan
rasa tanggung jawab, tanpa memupuk persatuan di tengah-tengah kebinekaan, tanpa
semangat berkontribusi bagi kemajuan
bersama, serta tanpa rasa percaya diri dan optimisme. Inilah
tantangan kita bangsa Indonesia, sanggup?
Theodore Roosevelt mengatakan: “To educate a person in
mind and not in morals is to educate a menace to society” (Mendidik seseorang
dalam aspek kecerdasan otak dan bukan aspek moral adalah ancaman mara-bahaya
kepada masyarakat) (http://www.pendidikankarakter.com)
Pada awalnya,
manusia itu lahir hanya membawa “personality” atau kepribadian. Secara umum kepribadian manusia ada 4 macam dan ada
banyak sekali teori yang menggunakan istilah yang berbeda bahkan ada yang
menggunakan warna, tetapi polanya tetap sama. Secara umum kepribadian ada 4, yaitu :
1. Koleris : tipe ini bercirikan pribadi yang
suka kemandirian, tegas, berapi-api, suka tantangan, bos atas dirinya sendiri.
2. Sanguinis : tipe ini bercirikan suka
dengan hal praktis, happy dan ceria selalu, suka kejutan, suka sekali dengan
kegiatan social dan bersenang-senang.
3. Phlegmatis : tipe ini bercirikan
suka bekerjasama, menghindari konflik, tidak suka perubahan mendadak, teman
bicara yang enak, menyukai hal yang pasti.
4. Melankolis : tipe ini bercirikan suka
dengan hal detil, menyimpan kemarahan, Perfection, suka instruksi yang jelas,
kegiatan rutin sangat disukai.
Di atas ini adalah teori yang klasik dan sekarang teori
ini banyak sekali berkembang, dan masih banyak digunakan sebagai alat tes
sampai pengukuran potensi manusia.
Kepribadian bukanlah karakter. Setiap
orang punya kepribadian yang berbeda-beda. Nah dari ke
4 kepribadian tersebut, masing-masing kepribadian tersebut memiliki kelemahan
dan keunggulan masing-masing. Misalnya tipe koleris identik dengan orang yang
berbicara “kasar” dan terkadang tidak peduli, sanguin pribadi yang sering susah
diajak untuk serius, phlegmatis sering kali susah diajak
melangkah yang pasti dan terkesan pasif, melankolis terjebak dengan dilemma pribadi
“iya” dimulut dan “tidak” dihati, serta cenderung perfectionis dalam detil
kehidupan serta inilah yang terkadang membuat orang lain cukup kerepotan.
Tiap manusia tidak bisa memilih kepribadiannya, kepribadian sudah hadiah dari Tuhan sang
pencipta saat manusia dilahirkan. Dan setiap orang yang memiliki kepribadian pasti ada kelemahannya dan
kelebihannya di aspek kehidupan social dan masing-masing pribadi. Mudah
ya, penjelasan ini.
Nah, karakter nya dimana? Saat tiap manusia belajar untuk mengatasi kelemahannya dan
memperbaiki kelemahannya dan memunculkan kebiasaan positif yang baru maka
inilah yang disebut dengan karakter. Misalnya, seorang koleris murni tetapi sangat santun dalam
menyampaikan pendapat dan instruksi kepada sesamanya, seorang yang sanguin
mampu membawa dirinya untuk bersikap serius dalam situasi yang membutuhkan
ketenangan dan perhatian fokus. Itulah Karakter. Pendidikan Karakter adalah
pemberian pandangan mengenai berbagai jenis nilai hidup, seperti kejujuran, kecerdasan,
kepedulian dan lain-lainnya. Dan itu adalah pilihan dari masing-masing individu
yang perlu dikembangkan dan perlu di bina, sejak usia dini (idealnya).
Karakter tidak bisa diwariskan, karakter tidak bisa
dibeli dan karakter tidak bisa ditukar. Karakter harus DIBANGUN dan
DIKEMBANGKAN secara sadar hari demi hari dengan melalui suatu PROSES yang tidak instan. Karakter
bukanlah sesuatu bawaan sejak lahir yang tidak dapat diubah lagi seperti sidik
jari.
Banyak saya perhatikan bahwa orang-orang dengan karakter
buruk cenderung mempersalahkan keadaan mereka. Mereka sering menyatakan bahwa
cara mereka dibesarkan yang salah, kesulitan keuangan, perlakuan orang lain
atau kondisi lainnya yang menjadikan mereka seperti sekarang ini. Memang benar
bahwa dalam kehidupan, kita harus menghadapi banyak hal di luar kendali kita,
namun karakter Anda tidaklah demikian. Karakter Anda selalu merupakan hasil
pilihan Anda.
Ketahuilah bahwa Anda mempunyai potensi untuk menjadi
seorang pribadi yang berkarakter, upayakanlah itu. Karakter, lebih dari apapun
dan akan menjadikan Anda seorang pribadi yang memiliki nilai tambah. Karakter akan melindungi segala
sesuatu yang Anda hargai dalam kehidupan ini.
Setiap orang bertanggung jawab atas karakternya. Anda
memiliki KONTROL PENUH atas karakter Anda, artinya Anda tidak dapat menyalahkan
orang lain atas karakter Anda yang buruk karena Anda yang bertanggung jawab
penuh. Mengembangkan karakter adalah TANGGUNG JAWAB pribadi Anda.(http://www.pendidikankarakter.com)
Pendidikan
merupakan tiang dan pondasi terpenting dan mendasar dalam kehidupan rakyat,
dengan komitment yang kuat dalam penyelenggaraan pendidikan Nasional maka masa
depan suatu bangsa yang cemerlang dapat diwujudkan dengan baik dan
membanggakan.
Para
pendahulu bangsa ini telah meletakan cita-cita yang mulia dengan memperhatikan
kecerdasan bangsanya, dengan bukti yang telah mereka tegaskan dalam UUD tahun
1945 pasal 31 ayat 1 untuk mengamanatkan kepada kelompok-kelompok terpelajar
difungsi pemerintahan yang kemudian diberi wewenang meng-usahakan dan
menyelenggarakan pendidikan nasional yang diharapkan mampu Meningkatkan
keimanan dan ketakwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa serta terbentuknya akhlak
yang mulia dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa.
Kemudian
dalam Undang-Undang RI No 20 tahun 2003 tentang sisitem Pendidikan Nasional Pasal
1 ayat 1, menegaskan bahwa apa yang dimaksud dengan pendidikan adalah: “Usaha
sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran”.
Hal ini dilakukan agar dalam prosesnya peserta didik secara aktif mampu
mengembangkan potensinya untuk memiliki kekuatan dan kesadaran spiritual keagamaan,
pengendalian diri, berkepribadian, cerdas, berakhlak mulia, serta keterampilan
yang diperlukan dirinya, sebagai bagian masyarakat bangsa, dan negara.
Amanat
UUD tahun 1945 yang telah menjadi kerangka dasar untuk mewujudkan dan
mensukseskan cita-cita bangsa, kelak pada hasil akhir dari penyelenggaraan-penyelanggaraan
Pendidikan Nasional yang sadar dibangun itu, akan menjadi sebuah tolak ukur
dari sebuah keberhasilan untuk menghantarkan bangsanya memiliki kehidupan yang
sejahtera dalam segala ukuran dan konteksnya.
Seperti
apa yang telah dicita-citkan para pendahulu dalam bentuk payung hukum dan
undang-undang maka, sudah merupakan kewajiban dari berbagai element untuk
mendukung dan mensukseskan proses pembentukan insani yang mampu hidup dalam
keberdayaannya sebagai warga negara, segala bentuk yang mungkin hari ini masih
dianggap ketimpangan dan ketidak seriusan dalam membangun Pendidikan Nasional
hendaknya dapat segera di benahi dan segera di carikan solusinya untuk
masadepan yang lebih baik.
Banyak
hal yang akan didapat dan bisa dinikmati ketika upaya-upaya nyata dalam dunia
pendidikan menjadi lebih baik, salah satunya adalah meninggkatnya kesadaran
kemanusiaan atas kehidupan yang selaknya bermartabat dengan nilai-nilai positif
yang telah ditanamkan, dan akhirnya pendidikan telah menjadi salah satu tujuan
dalam membentuk kehidupan yang berkarakter dan berdaya citra manusiawi.
Membangun
kesadaran melalui pendidikan merupakan sebuah kewajiban dan upaya sadar
sehingga dalam sejarahnya peradaban yang ideal akan dikenang sebagai mode atau
tauladan bagi generasi setelahnya, meski kondisi pendidikan di negeri yang
berbhenika tunggal ika ini secara teknis belum terlihat benar-benar sungguh
untuk mencerdaskan kehidupan bangsanya, namun yakinlah bahwa dalam setiap
generasi yang terlahir, secara alami akan ada yang membawa dampak apapun
terlebih untuk sebuah perubahan yang mengarah kepada perbaikan dalam dunia
pendidikan, tinggal bagaimana amanat dan cita-cita pendidikan itu akan direspon
dan diejawantahkan oleh mereka yang telah memiliki peran dan fungsi
strategisnya, baik di tataran penentu kebijakan ataupun pelaku dan peraktisi
langsung di dunia pendidikan yang telah dicita-citakan, untuk bahu membahu dalam
mewujudkan amanat dan cita-cita adalah sebuah jihat dunia dan akhirat. Semoga. gadingemasandalas@gmail.com
(085379739581)
Afrika
Selatan : Ex Unitaty Virss
Arika
Tengah : Unite Dignite Travail
Amerika
Serikat : In Good od We Trust
Antigua : Each Endeavourine
Achieving
Burundi : Sanza Sabwa
Belanda :
Jemaintiendrai
Brazilia : Ordem El Progresso
Cekoslowakia : Pravda Viteri
Canada : A Mari UsgueAd Mare
Colombia :
Libertad Orden
Dohomey :
Praternite Justice Travail
Gambia : Progres Peace Prosperity
Ghana : Freedom and justice
Guenea : Travail justictia
Solidariter
Honduras :
Rerca de Honduras Libre Soberana Independiente
Indonesia :
Bhinneka Tunggal Ika
Inggris : Liberte Egalite
Fraternite
Kenya : Harambee
Liberia : The Love of Liberty
Broucet Us here
Malaysia :
Bersekutu Tambah Mutu
Mali : Un Peuple Un But Une foi
Malta :
Virtute ef Constantin
Malawi : Unity and Freedom
Nigeria : Unity and Faith
Francis : Dieu et mon Droit Mon
Soit Quimalypense
Rwanda : Liberte
Singapura :
Majulah Singapura
Sierre
Leone :
unity Freedom Justice
Spanyol : Una Grande Libre
Tanzania :
Puruhuna Umojo
Tonga :
Koe Orua Mo Tango Ko Hoku Toeia
Togo :
Travail Liberte Patria
Trinidad :
Together We Aspire Together We Achieve
Uganda :
For God My County
Volta
Hulu :
Unite Travail Justice
Sejak manusia lahir, ia terus-menerus
menjadi sasaran indoktrinasi masyarakat, sebagaian dari indoktrinasi ini,
mungkin sebagain besarnya, berpegang bahwa kenyataan adalah semua yang dapat
disentuh dengan tangan dan dilihat oleh mata. Pemahaman ini, sangat perpengaruh
dalam masyarakat, tanpa merasa perlu mempertanyakan kembali bahkan dari
generasi ke generasi.
Walaupun begitu, sejenak pemikiran tanpa
dibebani indoktrinasi apa-apa, akan membuat seseorang menyadari sebuah fakta
yang mengejutkan;
Sejak kita lahir, semua hal yang ada
disekitar kita. Dunia, manusia, hewan, bunga, warna-warninya, aroma,
buah-buahan, rasa, planet, bintang, gunung, batu, bangunan, dan angkasa;
singkatnya, semua adalah persepsi yang ditampilkan panca indra kita kepada
kita.
Untuk menjernihkan masalah ini lebih
jauh, akan sangat menolong jika kita membicarakan tentang panca indra, agen
yang menyediakan informasi tentang dunia diluar dirikita kepada kita.
Persepsi kita tentang pengelihatan,
pendengaran, penciuman, pengecapan, dan sentuhan, semua berfungsi serupa.
Citara rasa, aroma, suara dan pandangan, dan kepadatan yang kita terima dari
objek yang kita asumsikan ada didunia luar, semua dikirimkan oleh syaraf
kepusat yang sesuai di otak. Dengan demikian, apa yang diterima otak adalah
infuls syaraf. Misalnya selama, selama proses pengelihatan, kelompok cahaya
(foton) yang berpindah dari objek kemata melalui lensa didepan mata di mana
mereke dibelokkan dan jauh terbalik pada retina dibelakang mata. Impuls syaraf
yag diteruskan oleh retina diterima sebagai citra di pusat pengelihatan otak
setelah beberapa rangkaian proses. Dan kita, disebuah bagian otak kita yang
disebut pusat pengelihatan, yang berukuran beberapa centimeter kubik saja,
menagkap sebuah dunia yang cerah dan penuh warna, yang mempunyai kedalaman,
ketinggian, dan keluasan.
Sebuah system yang serupa bekerja pada
semua indra lainya. Pengecapan misalnya, diubah menjadi impuls syaraf oleh
sel-sel khusus dimulut dan lidah lalu dikirimkan kepusat yang sesuai diotak.
Sebuah contoh akan memperjelas hal ini
lebih jauh. Mari kita bayangkan saat anda sedang meminum segelas lumun. Rasa
dingin dan padatnya gelas yang anda pegang, diubah menjadi impuls-impuls syaraf
oleh sel-sel khusus di bawah kulit anda dan diteruskan ke otak. Secara
besamaan, aroma limun, rasa manis yang anda alami ketika mengecapnya dan warna
kuning yang kita lihat ketika sedang memandang gelas diteruskan ke otak dalam
bentuk impuls-impuls syaraf. Begitu pula dengan bunyi yang kita dengar ketika
kita meletakkan gelas itu diatas meja juga diterima oleh telinga kita
diteruskan diteruskan keotak sebagai
sinyal-sinyal listrik. Pusat-pusat pendengaran di otak yang pada dasarnya
berbeda namun saling bekerjasama, menterjemahkan semua persepsi ini. Sebagai
hasil interpretasi ini, anda akan mengasumsikan diri anda bahawa anda sedang
meminum segelas limun. Dengan kata lain, segala sesuatu berlangsung dipusat
pengindraan diotak ketika kita mengira semua persepsi ini adalah nyata.
Namun, pada titip ini kita tertipu karena
sebenarnya kita tidak mempunyai bukti apapun untuk mengasumsikan bahwa apa yang
kita tangkap di otak memiliki korelasi dengan materi di luar tengkorak kepala
Kita. Hal yang telah dijelaskan sejauh ini cukup jelas dan terbukti benar oleh
ilmu pengetahuan saat ini. Setiap ilmuwan akan memberitahu Kita cara kerjanya
sisitem ini dan bahwa dunia yang Kita kira kita diami pada kenyataannya adalah
kumpulan dari banyak persepsi. Seorang ilmuwan Inggris, Jhon Gribbin menyatakan
terkait dengan iterpretasi yang dibuat otak, mengatakan bahwa; idra kita
seperti interpretasi berbagai rangsangan yang datang dari dunia luar,
sebagaimana jika ada sebatang pohon di taman. Ia terus mengatakan bahwa otak
kita menerima berbagai rangsangan yang disaring melalui indra kita, dan bahwa
pohon hanyalah suatu stimulus. Kemudian dia mempertanyakan: jadi, yang mana
yang nyata?, pohon yang terbentuk oleh indra kita, atau pohon ditaman?..
Tidah diragukan, ini adalah suatu
realitas yang membutuhkan perenungan mendalam. Hingga kini, sangat mungkin Kita
mengasumsikan bahwa segala sesuatu yang Kita lihat didunia luar adalah realitas
absolute. Namun, sebagaimana juga dbuktikan oleh sains, tidak mungkin
membuktikan bahwa objek itu mempunyai korelasi materi di dunia luar. Subjek
yang dijelaskan secara ringkas ini adalah salah satu subjek yang paling penting
yang Kita akan sadari dalam hidup Kita.
Sumber: Harun Yahya Book
Jika kita pikirkan hal ini secara
mendalam, kita akan menemukan suatu hal yang sangat mencengangkan. Otak, dimana
pusat-pusat pengindraan kita berada, hanyalah sepotong daging seberat 1.400
gram. Dan tengkorak, suatu missal tulang, melindungi sepotong daging ini.
Dengan perlindungan ini, tidak ada cahaya, suara, atau aroma apapun dapat
menembusnya. Bagian dalam dari tengkorak gelap gulita dan sepenuhnya terisolasi
dari cahaya dan aroma apapun.
Namun dari dalam tampat yang gelap gulita
ini, kita menangkap dunia yang penuh warna dengan jutaan rasa, aroma, dan suara
yang bermacam-macam. Bagaimana ini terjadi?, apa yang membuat kita merasakan
cahayadidalam kegelap-gulitaan?, Apa yang membuat Kita merasakan aroma disuatu
tempat yang sepenuhnya terisolasi dari segala jenis aroma?, begitu juga, apa
yang membuat Kita merasakan berbagai perasaan lain?, siapa yang membuat indra
ini untuk kita.
Kenyataanya, setiap saat terjadi
keajaiban. Sebagaimana disebut-sebutkan di atas, semua persepsi tentang ruang
yang kita tempati, misalnya, diubah menjadi impuls syaraf dan dikirim ke otak
kita. Pengindraan yang dikirim ke otak d interpretasikan sebagai citra sebuah
ruangan. Dengan kata lain, Kita sebenarnya tidak berada di dalam ruangan yang
Kita asumsikan tengahah kita tempati; sebaliknya ruangan itu berada di dalam
anda. Lokasi ruangan tetap di dalam otak, atau dapat dikatakan, lokasi dimana
ia ditangkap didalam otak adalah sebuah bintik kecil gelap, dan bening, Kita
menangkap baik ruangan yang Kita tempati dan pemandangan yang luas di tempat
yang sama.
Selain itu, lagi-lagi otak Kita yang
mengiterpretasi dan memberikan arti kepada sinyal yang kita asumsikan sebagai “
dunia luar “. Misalnya, mari kita cermati indra pendengaran. Pada kenyataannya,
otak kita otak kita yang mengubah gelombang suara di “ dunia luar” menjadi
suatu simponi. Dengan kata lain, music juga merupakan suatu persepsi yang
diciptakan oleh otak kita. Begitu pula ketika kita melihat warna-warni yang
mencapai otak kita yang merupakan impuls-impuls syaraf yang berbeda karakter.
Sekali lagi, otak kitalah yang mengubah
sinyal-sinyal ini menjadi warna-warni. Tidak ada warna diluar di” dunia luar”.
Apel tidak merah, langit tidak biru, dan pohon tidak hijau. Mereka seperti
adanya hanya karena Kita mempersepsikan mereka seperti itu. “ dunia luar”
tergantung sepenuhnya pada si pemerhati.
Bahkan kerusakan kecil ppada retina mata
dapat menyebabkan buta waarna. Sebagaimana orang menangkap warna biru sebagai
hijau, sebagian lagi menangkap merah merah sebagai biru, dan sebagaian lagi
mengkap semua warna sebagai bermacam corak abu-abu. Pada titik ini, tidak ada
artinya apakah objek di luar itu berwarna atau tidak.
Seorang pemikir terkenal, barkeley juga
menyinggung fakta ini:
Pada awalnya diyakini bahwa warna-warni,
aaroma, dan lain-lain, “benar-benar ada”, namun kemudian pandangan semacam itu
ditinggalkan, dan difahami bahwa mereka hanya ada tergantung pada pengindraan
kita.”
Kesimpulanya, alasan kenapa Kita melihat
objek-objek berwarna bukanlah karena mereka berwarna atau karena mereka
mempunyai keberadaan materi yang bebas diluar diri kita. Kebenarannya adalah
bahwa semua kualitas yang kita anggap berasal dari objek-objek berada di dalam
diri kita da bukan di “dunia luar”.
Dan hal ini mungkin belum pernah Kita
pikirkan sebelumnya, hingga sampai hari ini
Harun Yahya Book
Archiv
alasan pemmbuatan blog
(1)
Album
(2)
BUDAYA
(2)
HUMOR SUFI
(2)
MOTIVASI
(18)
Original Texs
(4)
PENDIDIKAN
(14)
puisi menyejukkan
(8)
Tips dan Kesehatan
(12)
UMUM
(12)





