Sebelum kita membahas topik ini lebih jauh lagi saya akan memberikan data dan fakta berikut:
158 kepala daerah tersangkut korupsi sepanjang 2004-2011
42 anggota DPR terseret korupsi pada kurun waktu 2008-2011
30 anggota DPR periode 1999-2004 terlibat kasus suap pemilihan DGS BI
Kasus korupsi terjadi diberbagai lembaga seperti KPU,KY, KPPU, Ditjen Pajak, BI, dan BKPM
Sumber : Litbang Kompas
Kini setelah membaca fakta diatas, apa yang ada dipikran anda? Cobalah melihat lebih ke atas sedikit, lebih tepatnya judul artikel ini. Yah, itu adalah usulan saya untuk beberapa kasus yang membuat hati di dada kita “terhentak” membaca kelakuan para pejabat Negara.
Pendidikan karakter, sekarang ini mutlak diperlukan bukan hanya di sekolah saja, tapi dirumah dan di lingkungan sosial. Bahkan sekarang ini peserta pendidikan karakter bukan lagi anak usia dini hingga remaja, tetapi juga usia dewasa. Mutlak perlu untuk kelangsungan hidup Bangsa ini.
Bayangkan apa persaingan yang muncul ditahun 2021? Yang jelas itu akan menjadi beban kita dan orangtua masa kini. Saat itu, anak-anak masa kini akan menghadapi persaingan dengan rekan-rekannya dari berbagai belahan Negara di Dunia. Bahkan kita yang masih akan berkarya ditahun tersebut akan merasakan perasaan yang sama. Tuntutan kualitas sumber daya manusia pada tahun 2021 tentunya membutuhkan good character.
Bagaimanapun juga, karakter adalah kunci keberhasilan individu. Dari sebuah penelitian di Amerika, 90 persen kasus pemecatan disebabkan oleh perilaku buruk seperti tidak bertanggung jawab, tidak jujur, dan hubungan interpersonal yang buruk. Selain itu, terdapat penelitian lain yang mengindikasikan bahwa 80 persen keberhasilan seseorang di masyarakat ditentukan oleh emotional quotient.
Bagaimana dengan bangsa kita? Bagaimana dengan penerus orang-orang yang sekarang sedang duduk dikursi penting pemerintahan negara ini dan yang duduk di kursi penting yang mengelola roda perekonomian negara ini? Apakah mereka sudah menunjukan kualitas karakter yang baik dan melegakan hati kita? Bisakah kita percaya, kelak tongkat estafet kita serahkan pada mereka, maka mereka mampu menjalankan dengan baik atau justru sebaliknya?
Dari sudut pandang psikologis, saya melihat terjadi penurunan kulaitas “usia psikologis” pada anak yang berusia 21 tahun pada tahun 20011, dengan anak yang berumur 21 pada tahun 2001. Maksud usia psikologis adalah usia kedewasaan, usia kelayakan dan kepantasan yang berbanding lurus dengan usia biologis. Jika anak sekarang usia 21 tahun seakan mereka seperti berumur 12 atau 11 tahun. Maaf jika ini mengejutkan dan menyakitkan.
Walau tidak semua, tetapi kebanyakan saya temui memiliki kecenderungan seperti itu. Saya berulangkali bekerjasama dengan anak usia tersebut dan hasilnya kurang maksimal. Saya tidak “kapok” ber ulang-ulang bekerja sama dengan mereka. Dan secara tidak sengaja saya menemukan pola ini cenderung berulang, saya amati dan evaluasi perilaku dan karakter mereka. Kembali lagi ingat, disekolah pada umumnya tidak diberikan pendidikan untuk mengatasi persaingan pada dunia kerja. Sehingga ada survey yang mengatakan rata-rata setelah sekolah seorang anak perlu 5-7 tahun beradaptasi dengan dunia kerja dan rata-rata dalam 5-7 tahun tersebut pindah kerja sampai 3-5 kali. Hmm.. dan proses seperti ini sering disebut dengan proses mencari jati diri. Pertanyaan saya mencari “diri” itu didalam diri atau diluar diri? “saya cocoknya kerja apa ya? Coba kerjain ini lah” lalu kalau tidak cocok pindah ke lainnya. Kenapa tidak diajarkan disekolah, agar proses anak menjalani kehidupan  di dunia yang sesungguhnya tidak mengalami hambatan bahkan tidak jarang yang putus asa karena tumbuh perasaan tidak mampu didalam dirinya dan seumur hidup  terpenjara oleh keyakinannya yang salah.
Baiklah kembali lagi ke topik, Karakter merupakan nilai-nilai perilaku manusia yang berhubungan dengan Tuhan Yang Maha Esa, diri sendiri, sesama manusia, lingkungan dan kebangsaan yang terwujud dalam pikiran, sikap, perasaan, perkataan, dan perbuatan berdasarkan norma-norma agama, hukum, tata krama, budaya dan adat istiadat.
Bagi Indonesia sekarang ini, pendidikan karakter juga berarti melakukan usaha sungguh-sungguh, sitematik dan berkelanjutan untuk membangkitkan dan menguatkan kesadaran serta keyakinan semua orang Indonesia bahwa tidak akan ada masa depan yang lebih baik tanpa membangun dan menguatkan karakter rakyat Indonesia. Dengan kata lain, tidak ada masa depan yang lebih baik yang bisa diwujudkan tanpa kejujuran, tanpa meningkatkan disiplin diri, tanpa kegigihan, tanpa semangat belajar yang tinggi, tanpa mengembangkan rasa tanggung jawab, tanpa memupuk persatuan di tengah-tengah kebinekaan, tanpa semangat berkontribusi bagi kemajuan bersama, serta tanpa rasa percaya diri dan optimisme. Inilah tantangan kita bangsa Indonesia, sanggup?
Theodore Roosevelt mengatakan: “To educate a person in mind and not in morals is to educate a menace to society” (Mendidik seseorang dalam aspek kecerdasan otak dan bukan aspek moral adalah ancaman mara-bahaya kepada masyarakat) (http://www.pendidikankarakter.com)
 Pada awalnya, manusia itu lahir hanya membawa “personality” atau kepribadian. Secara umum kepribadian manusia ada 4 macam dan ada banyak sekali teori yang menggunakan istilah yang berbeda bahkan ada yang menggunakan warna, tetapi polanya tetap sama. Secara umum kepribadian ada 4, yaitu :
1. Koleris : tipe ini bercirikan pribadi yang suka kemandirian, tegas, berapi-api, suka tantangan, bos atas dirinya sendiri.
2. Sanguinis : tipe ini bercirikan suka dengan hal praktis, happy dan ceria selalu, suka kejutan, suka sekali dengan kegiatan social dan bersenang-senang.
3. Phlegmatis :  tipe ini bercirikan suka bekerjasama, menghindari konflik, tidak suka perubahan mendadak, teman bicara yang enak, menyukai hal yang pasti.
4. Melankolis : tipe ini bercirikan suka dengan hal detil, menyimpan kemarahan, Perfection, suka instruksi yang jelas, kegiatan rutin sangat disukai.
Di atas ini adalah teori yang klasik dan sekarang teori ini banyak sekali berkembang, dan masih banyak digunakan sebagai alat tes sampai pengukuran potensi manusia.
Kepribadian bukanlah karakter. Setiap orang punya kepribadian yang berbeda-beda. Nah dari ke 4 kepribadian tersebut, masing-masing kepribadian tersebut memiliki kelemahan dan keunggulan masing-masing. Misalnya tipe koleris identik dengan orang yang berbicara “kasar” dan terkadang tidak peduli, sanguin pribadi yang sering susah diajak untuk serius, phlegmatis sering kali susah diajak melangkah yang pasti dan terkesan pasif, melankolis terjebak dengan dilemma pribadi “iya” dimulut dan “tidak” dihati, serta cenderung perfectionis dalam detil kehidupan serta inilah yang terkadang membuat orang lain cukup kerepotan.
Tiap manusia tidak bisa memilih kepribadiannya, kepribadian sudah hadiah dari Tuhan sang pencipta saat manusia dilahirkan. Dan setiap orang yang memiliki kepribadian pasti ada kelemahannya dan kelebihannya di aspek kehidupan social dan masing-masing pribadi.  Mudah ya, penjelasan ini.
Nah, karakter nya dimana? Saat tiap manusia belajar untuk mengatasi kelemahannya dan memperbaiki kelemahannya dan memunculkan kebiasaan positif yang baru maka inilah yang disebut dengan karakter. Misalnya, seorang koleris murni tetapi sangat santun dalam menyampaikan pendapat dan instruksi kepada sesamanya, seorang yang sanguin mampu membawa dirinya untuk bersikap serius dalam situasi yang membutuhkan ketenangan dan perhatian fokus. Itulah Karakter. Pendidikan Karakter adalah pemberian pandangan mengenai berbagai jenis nilai hidup, seperti kejujuran, kecerdasan, kepedulian dan lain-lainnya. Dan itu adalah pilihan dari masing-masing individu yang perlu dikembangkan dan perlu di bina, sejak usia dini (idealnya).
Karakter tidak bisa diwariskan, karakter tidak bisa dibeli dan karakter tidak bisa ditukar. Karakter harus DIBANGUN dan DIKEMBANGKAN secara sadar hari demi hari dengan melalui suatu PROSES yang tidak instan. Karakter bukanlah sesuatu bawaan sejak lahir yang tidak dapat diubah lagi seperti sidik jari.
Banyak saya perhatikan bahwa orang-orang dengan karakter buruk cenderung mempersalahkan keadaan mereka. Mereka sering menyatakan bahwa cara mereka dibesarkan yang salah, kesulitan keuangan, perlakuan orang lain atau kondisi lainnya yang menjadikan mereka seperti sekarang ini. Memang benar bahwa dalam kehidupan, kita harus menghadapi banyak hal di luar kendali kita, namun karakter Anda tidaklah demikian. Karakter Anda selalu merupakan hasil pilihan Anda.
Ketahuilah bahwa Anda mempunyai potensi untuk menjadi seorang pribadi yang berkarakter, upayakanlah itu. Karakter, lebih dari apapun dan akan menjadikan Anda seorang pribadi yang memiliki nilai tambah. Karakter akan melindungi segala sesuatu yang Anda hargai dalam kehidupan ini.
Setiap orang bertanggung jawab atas karakternya. Anda memiliki KONTROL PENUH atas karakter Anda, artinya Anda tidak dapat menyalahkan orang lain atas karakter Anda yang buruk karena Anda yang bertanggung jawab penuh. Mengembangkan karakter adalah TANGGUNG JAWAB pribadi Anda.(http://www.pendidikankarakter.com)

Pendidikan merupakan tiang dan pondasi terpenting dan mendasar dalam kehidupan rakyat, dengan komitment yang kuat dalam penyelenggaraan pendidikan Nasional maka masa depan suatu bangsa yang cemerlang dapat diwujudkan dengan baik dan membanggakan.

Para pendahulu bangsa ini telah meletakan cita-cita yang mulia dengan memperhatikan kecerdasan bangsanya, dengan bukti yang telah mereka tegaskan dalam UUD tahun 1945 pasal 31 ayat 1 untuk mengamanatkan kepada kelompok-kelompok terpelajar difungsi pemerintahan yang kemudian diberi wewenang meng-usahakan dan menyelenggarakan pendidikan nasional yang diharapkan mampu Meningkatkan keimanan dan ketakwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa serta terbentuknya akhlak yang mulia dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa.

Kemudian dalam Undang-Undang RI No 20 tahun 2003 tentang sisitem Pendidikan Nasional Pasal 1 ayat 1, menegaskan bahwa apa yang dimaksud dengan pendidikan adalah: “Usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran”. Hal ini dilakukan agar dalam prosesnya peserta didik secara aktif mampu mengembangkan potensinya untuk memiliki kekuatan dan kesadaran spiritual keagamaan, pengendalian diri, berkepribadian, cerdas, berakhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, sebagai bagian masyarakat bangsa, dan negara.

Amanat UUD tahun 1945 yang telah menjadi kerangka dasar untuk mewujudkan dan mensukseskan cita-cita bangsa, kelak pada hasil akhir dari penyelenggaraan-penyelanggaraan Pendidikan Nasional yang sadar dibangun itu, akan menjadi sebuah tolak ukur dari sebuah keberhasilan untuk menghantarkan bangsanya memiliki kehidupan yang sejahtera dalam segala ukuran dan konteksnya.

Seperti apa yang telah dicita-citkan para pendahulu dalam bentuk payung hukum dan undang-undang maka, sudah merupakan kewajiban dari berbagai element untuk mendukung dan mensukseskan proses pembentukan insani yang mampu hidup dalam keberdayaannya sebagai warga negara, segala bentuk yang mungkin hari ini masih dianggap ketimpangan dan ketidak seriusan dalam membangun Pendidikan Nasional hendaknya dapat segera di benahi dan segera di carikan solusinya untuk masadepan yang lebih baik.

Banyak hal yang akan didapat dan bisa dinikmati ketika upaya-upaya nyata dalam dunia pendidikan menjadi lebih baik, salah satunya adalah meninggkatnya kesadaran kemanusiaan atas kehidupan yang selaknya bermartabat dengan nilai-nilai positif yang telah ditanamkan, dan akhirnya pendidikan telah menjadi salah satu tujuan dalam membentuk kehidupan yang berkarakter dan berdaya citra manusiawi.

Membangun kesadaran melalui pendidikan merupakan sebuah kewajiban dan upaya sadar sehingga dalam sejarahnya peradaban yang ideal akan dikenang sebagai mode atau tauladan bagi generasi setelahnya, meski kondisi pendidikan di negeri yang berbhenika tunggal ika ini secara teknis belum terlihat benar-benar sungguh untuk mencerdaskan kehidupan bangsanya, namun yakinlah bahwa dalam setiap generasi yang terlahir, secara alami akan ada yang membawa dampak apapun terlebih untuk sebuah perubahan yang mengarah kepada perbaikan dalam dunia pendidikan, tinggal bagaimana amanat dan cita-cita pendidikan itu akan direspon dan diejawantahkan oleh mereka yang telah memiliki peran dan fungsi strategisnya, baik di tataran penentu kebijakan ataupun pelaku dan peraktisi langsung di dunia pendidikan yang telah dicita-citakan, untuk bahu membahu dalam mewujudkan amanat dan cita-cita adalah sebuah jihat dunia dan akhirat.  Semoga. gadingemasandalas@gmail.com (085379739581)
 Afrika Selatan           : Ex Unitaty Virss
Arika Tengah             : Unite Dignite Travail
Amerika Serikat        : In Good od We Trust
Antigua                       : Each Endeavourine Achieving
Burundi                       : Sanza Sabwa
Belanda                      : Jemaintiendrai
Brazilia                       : Ordem El Progresso
Cekoslowakia           : Pravda Viteri
Canada                      : A Mari UsgueAd Mare
Colombia                   : Libertad Orden
Dohomey                   : Praternite Justice Travail
Gambia                      : Progres Peace Prosperity
Ghana                        : Freedom and justice
Guenea                      : Travail justictia Solidariter
Honduras                    : Rerca de Honduras Libre Soberana Independiente
Indonesia                    : Bhinneka Tunggal Ika
Inggris                         : Liberte Egalite Fraternite
Kenya                          : Harambee
Liberia                        : The Love of Liberty Broucet Us here
Malaysia                     : Bersekutu Tambah Mutu
Mali                             : Un Peuple Un But Une foi
Malta                           : Virtute ef Constantin
Malawi                        : Unity and Freedom
Nigeria                       : Unity and Faith
Francis                       : Dieu et mon Droit Mon Soit Quimalypense
Rwanda                      : Liberte
Singapura                  : Majulah Singapura
Sierre Leone              : unity Freedom Justice
Spanyol                      : Una Grande Libre
Tanzania                    : Puruhuna Umojo
Tonga                         : Koe Orua Mo Tango Ko Hoku Toeia
Togo                           : Travail Liberte Patria
Trinidad                      : Together We Aspire Together We Achieve
Uganda                       : For God My County
Volta Hulu                   : Unite Travail Justice




Sejak manusia lahir, ia terus-menerus menjadi sasaran indoktrinasi masyarakat, sebagaian dari indoktrinasi ini, mungkin sebagain besarnya, berpegang bahwa kenyataan adalah semua yang dapat disentuh dengan tangan dan dilihat oleh mata. Pemahaman ini, sangat perpengaruh dalam masyarakat, tanpa merasa perlu mempertanyakan kembali bahkan dari generasi ke generasi.

Walaupun begitu, sejenak pemikiran tanpa dibebani indoktrinasi apa-apa, akan membuat seseorang menyadari sebuah fakta yang mengejutkan;

Sejak kita lahir, semua hal yang ada disekitar kita. Dunia, manusia, hewan, bunga, warna-warninya, aroma, buah-buahan, rasa, planet, bintang, gunung, batu, bangunan, dan angkasa; singkatnya, semua adalah persepsi yang ditampilkan panca indra kita kepada kita.

Untuk menjernihkan masalah ini lebih jauh, akan sangat menolong jika kita membicarakan tentang panca indra, agen yang menyediakan informasi tentang dunia diluar dirikita kepada kita.

Persepsi kita tentang pengelihatan, pendengaran, penciuman, pengecapan, dan sentuhan, semua berfungsi serupa. Citara rasa, aroma, suara dan pandangan, dan kepadatan yang kita terima dari objek yang kita asumsikan ada didunia luar, semua dikirimkan oleh syaraf kepusat yang sesuai di otak. Dengan demikian, apa yang diterima otak adalah infuls syaraf. Misalnya selama, selama proses pengelihatan, kelompok cahaya (foton) yang berpindah dari objek kemata melalui lensa didepan mata di mana mereke dibelokkan dan jauh terbalik pada retina dibelakang mata. Impuls syaraf yag diteruskan oleh retina diterima sebagai citra di pusat pengelihatan otak setelah beberapa rangkaian proses. Dan kita, disebuah bagian otak kita yang disebut pusat pengelihatan, yang berukuran beberapa centimeter kubik saja, menagkap sebuah dunia yang cerah dan penuh warna, yang mempunyai kedalaman, ketinggian, dan keluasan.

Sebuah system yang serupa bekerja pada semua indra lainya. Pengecapan misalnya, diubah menjadi impuls syaraf oleh sel-sel khusus dimulut dan lidah lalu dikirimkan kepusat yang sesuai diotak.

Sebuah contoh akan memperjelas hal ini lebih jauh. Mari kita bayangkan saat anda sedang meminum segelas lumun. Rasa dingin dan padatnya gelas yang anda pegang, diubah menjadi impuls-impuls syaraf oleh sel-sel khusus di bawah kulit anda dan diteruskan ke otak. Secara besamaan, aroma limun, rasa manis yang anda alami ketika mengecapnya dan warna kuning yang kita lihat ketika sedang memandang gelas diteruskan ke otak dalam bentuk impuls-impuls syaraf. Begitu pula dengan bunyi yang kita dengar ketika kita meletakkan gelas itu diatas meja juga diterima oleh telinga kita diteruskan  diteruskan keotak sebagai sinyal-sinyal listrik. Pusat-pusat pendengaran di otak yang pada dasarnya berbeda namun saling bekerjasama, menterjemahkan semua persepsi ini. Sebagai hasil interpretasi ini, anda akan mengasumsikan diri anda bahawa anda sedang meminum segelas limun. Dengan kata lain, segala sesuatu berlangsung dipusat pengindraan diotak ketika kita mengira semua persepsi ini adalah nyata.

Namun, pada titip ini kita tertipu karena sebenarnya kita tidak mempunyai bukti apapun untuk mengasumsikan bahwa apa yang kita tangkap di otak memiliki korelasi dengan materi di luar tengkorak kepala Kita. Hal yang telah dijelaskan sejauh ini cukup jelas dan terbukti benar oleh ilmu pengetahuan saat ini. Setiap ilmuwan akan memberitahu Kita cara kerjanya sisitem ini dan bahwa dunia yang Kita kira kita diami pada kenyataannya adalah kumpulan dari banyak persepsi. Seorang ilmuwan Inggris, Jhon Gribbin menyatakan terkait dengan iterpretasi yang dibuat otak, mengatakan bahwa; idra kita seperti interpretasi berbagai rangsangan yang datang dari dunia luar, sebagaimana jika ada sebatang pohon di taman. Ia terus mengatakan bahwa otak kita menerima berbagai rangsangan yang disaring melalui indra kita, dan bahwa pohon hanyalah suatu stimulus. Kemudian dia mempertanyakan: jadi, yang mana yang nyata?, pohon yang terbentuk oleh indra kita, atau pohon ditaman?..
Tidah diragukan, ini adalah suatu realitas yang membutuhkan perenungan mendalam. Hingga kini, sangat mungkin Kita mengasumsikan bahwa segala sesuatu yang Kita lihat didunia luar adalah realitas absolute. Namun, sebagaimana juga dbuktikan oleh sains, tidak mungkin membuktikan bahwa objek itu mempunyai korelasi materi di dunia luar. Subjek yang dijelaskan secara ringkas ini adalah salah satu subjek yang paling penting yang Kita akan sadari dalam hidup Kita.

Sumber: Harun Yahya Book

Jika kita pikirkan hal ini secara mendalam, kita akan menemukan suatu hal yang sangat mencengangkan. Otak, dimana pusat-pusat pengindraan kita berada, hanyalah sepotong daging seberat 1.400 gram. Dan tengkorak, suatu missal tulang, melindungi sepotong daging ini. Dengan perlindungan ini, tidak ada cahaya, suara, atau aroma apapun dapat menembusnya. Bagian dalam dari tengkorak gelap gulita dan sepenuhnya terisolasi dari cahaya dan aroma apapun.

Namun dari dalam tampat yang gelap gulita ini, kita menangkap dunia yang penuh warna dengan jutaan rasa, aroma, dan suara yang bermacam-macam. Bagaimana ini terjadi?, apa yang membuat kita merasakan cahayadidalam kegelap-gulitaan?, Apa yang membuat Kita merasakan aroma disuatu tempat yang sepenuhnya terisolasi dari segala jenis aroma?, begitu juga, apa yang membuat Kita merasakan berbagai perasaan lain?, siapa yang membuat indra ini untuk kita.

Kenyataanya, setiap saat terjadi keajaiban. Sebagaimana disebut-sebutkan di atas, semua persepsi tentang ruang yang kita tempati, misalnya, diubah menjadi impuls syaraf dan dikirim ke otak kita. Pengindraan yang dikirim ke otak d interpretasikan sebagai citra sebuah ruangan. Dengan kata lain, Kita sebenarnya tidak berada di dalam ruangan yang Kita asumsikan tengahah kita tempati; sebaliknya ruangan itu berada di dalam anda. Lokasi ruangan tetap di dalam otak, atau dapat dikatakan, lokasi dimana ia ditangkap didalam otak adalah sebuah bintik kecil gelap, dan bening, Kita menangkap baik ruangan yang Kita tempati dan pemandangan yang luas di tempat yang sama.

Selain itu, lagi-lagi otak Kita yang mengiterpretasi dan memberikan arti kepada sinyal yang kita asumsikan sebagai “ dunia luar “. Misalnya, mari kita cermati indra pendengaran. Pada kenyataannya, otak kita otak kita yang mengubah gelombang suara di “ dunia luar” menjadi suatu simponi. Dengan kata lain, music juga merupakan suatu persepsi yang diciptakan oleh otak kita. Begitu pula ketika kita melihat warna-warni yang mencapai otak kita yang merupakan impuls-impuls syaraf yang berbeda karakter.

Sekali lagi, otak kitalah yang mengubah sinyal-sinyal ini menjadi warna-warni. Tidak ada warna diluar di” dunia luar”. Apel tidak merah, langit tidak biru, dan pohon tidak hijau. Mereka seperti adanya hanya karena Kita mempersepsikan mereka seperti itu. “ dunia luar” tergantung sepenuhnya pada si pemerhati.

Bahkan kerusakan kecil ppada retina mata dapat menyebabkan buta waarna. Sebagaimana orang menangkap warna biru sebagai hijau, sebagian lagi menangkap merah merah sebagai biru, dan sebagaian lagi mengkap semua warna sebagai bermacam corak abu-abu. Pada titik ini, tidak ada artinya apakah objek di luar itu berwarna atau tidak.

Seorang pemikir terkenal, barkeley juga menyinggung fakta ini:
Pada awalnya diyakini bahwa warna-warni, aaroma, dan lain-lain, “benar-benar ada”, namun kemudian pandangan semacam itu ditinggalkan, dan difahami bahwa mereka hanya ada tergantung pada pengindraan kita.”

Kesimpulanya, alasan kenapa Kita melihat objek-objek berwarna bukanlah karena mereka berwarna atau karena mereka mempunyai keberadaan materi yang bebas diluar diri kita. Kebenarannya adalah bahwa semua kualitas yang kita anggap berasal dari objek-objek berada di dalam diri kita da bukan di “dunia luar”.
Dan hal ini mungkin belum pernah Kita pikirkan sebelumnya, hingga sampai hari ini

Harun Yahya Book

Archiv