gambar: https://www.google.com
Budaya merupakan suatu kebiasaan yang mengandung nilai – nilai penting
dan fundamental yang diwariskan dari generasi ke generasi. Warisan
tersebut harus dijaga agar tidak luntur atauhilang sehingga dapat
dipelajari dan dilestarikan oleh generasi berikutnya. Budaya secara umum
dapat dibagi menjadi dua macam yaitu :
1. Budaya Daerah adalah
suatu kebiasaan dalam wilayah atau daerah tertentu yang diwariskan
secara turun temurun oleh generasi terdahulu pada generasi berikutnya
pada ruang lingkup daerah tersebut. Budaya daerah ini muncul saat
penduduk suatu daerah telah memiliki pola pikir dan kehidupan sosial
yang sama sehingga itu menjadi suatu kebiasaan yang membedakan mereka
dengan penduduk – penduduk yang lain. Budaya daerah sendiri mulai
terlihat berkembang di Indonesia pada zaman kerajaan – kerajaan
terdahulu.
2. Budaya Nasional adalah gabungan dari budaya
daerah yang ada di Negara tersebut. Itu dimaksudkan budaya daerah yang
mengalami asimilasi dan akulturasi dengan dareah lain di suatu Negara
akan terus tumbuh dan berkembang menjadi kebiasaan-kebiasaan dari Negara
tersebut. Contohnya Pancasila sebagai dasar negara, Bahasa Indonesia
dan Lagu Kebangsaan yang dicetuskan dalam Sumpah Pemuda 12 Oktober 1928
yang diikuti oleh seluruh pemuda berbagai daerah di Indonesia yang
membulatkan tekad untuk menyatukan Indonesia dengan menyamakan pola
pikir bahwa Indonesia memang berbeda budaya tiap daerahnya tetapi tetap
dalam satu kesatuan Indonesia Raya dalam semboyan “bhineka tunggal ika”.
Ada suatu pepatah bijak mengatakan :
“ Cintai budayamu layaknya engkau mencintai ibumu “
”Suatu Negara tidak akan menjadi negara yang besar jika tidak mengetahui jati diri dari budaya negara tersebut”
Sumber : www.ghosasquare.blogspot.com/2009/01/pengertian-budaya-daerah-dan-budaya.html
Tanpa adanya kebudayaan, suatu Negara tidak dapat mempunyai
ciri khas di mata dunia. Namun yang menjadi kegelisahaan para seniman
dan tokoh masyarakat yang sudah bergaul dengan kebudayan alami Indonesia
adalah tidak adanya pengakuan atau pengukuhan atas berbagai macam suku,
budaya, adat dan kekayaan alam Indonesia oleh pemerintah. Apakah mereka
malu dan enggan untuk mengurusi hal seperti ini? Mungkinkah bagi mereka
yang terlebih penting di tangani adalah urusan politik yang tidak
kunjung sembuh .. padahal justru semakin membuat bengkak hati-hati para
rakyat Indonesia. Hal ini sebenarnya sudah tidak asing lagi, namun jika
di teruskan semakin ironis melihatnyaa. Akan ada berapa banyak lagi
kebudayaan yang akan di akui oleh Negara luar, terutama Negara tetangga
kita (Malaysia). Sebanarnya tidak hanya Malaysia saja yang akan mengakui
kebuayaan Indonesia, tetapi Negara-negara lain pun bisa melakukannya.
Jika pertahanan dan hukum untuk melindungi kebudayan tidak di ketatkan.
Indonesia adalah negara yang banyak memiliki pulau yang
disatukan oleh lautan. Indonesia memiliki banyak obat-obatan
tradisional, bahkan jika dibandingkan Negeri Gingseng Indonesialah yang
paling banyak jenis tumbuhan herbal. Tidak hanya itu saja bahkan para
manusia Indonesia pun bisa meneliti dan mengolahnya. Kebudayaan
indonesia bukan hanya dari alat music, lagu-lagu dan pakaian saja. Bisa
dikatakan semua materi yang Allah SWT berikan di bumi ini dimiliki oleh
Indonesia. Antara lain :
1. Agama yang beraneka ragam
2. Minyak bumi
3. Belerang, Emas, Batu bara dll.
4. Flora & Fauna
5. Rumah adat
6. Bahasa daerah
7. Pakaian tradisional dari tiap-tiap daerah
8. Alat & jenis music tradisional
9. Banyaknya pesona alam yang tidak kalah dengan Negara lain (hutan, bukit, lembah, dll)
10. Berbagai macam ilmu bela diri & tari tradioional, dll.
Dengan banyaknya kebudayaan daerah tersebut akan menjadi sumber
kebudayaan nasional yaitu Negara Indonesia. Jika di jelaskan satu-satu
kebudayaan, waaah banyak sekaliii. .. silahkan searching di google. Yang
jelas 10 poin seperti yang sudah saya tulis di atas salah satu dari
aneka ragam Bhineka Tunggal Ika.
Kasus 1
Kebudayaan Nasional Masih Akan Dibentuk
BANDUNG, KOMPAS.com-Wujud kebudayaan nasional Indonesia menjadi polemik
utama karena masih akan dibentuk dan belum memiliki kesimpulan yang
jelas serta dapat diterima oleh semua pihak. "Wujud kebudayaan nasional
Indonesia masih akan dibentuk karena belum ada sebuah kesimpulan yang
jelas dan diterima semua pihak," ungkap Sastrawan dan Budayawan
Indonesia Ajip Rosidi, di Fakultas Sastra Universitas Padjadjaran
(Unpad) di Jatinangor, Sumedang, Senin.
Ajip yang ditemui dalam
acara Peringatan Dies Natalis ke-52 Fakultas Sastra Unpad, mengatakan
yang sudah jelas saat ini adalah kebudayaan-kebudayaan daerah, sedangkan
kebudayaan nasional belum jelas. Menurut Ajip, pada umumnya ada
anggapan negatif tentang kebudayaan daerah, karena dianggap bukan
kebudayaan nasional. "Ada anggapan bahwa kebudayaan nasional itu harus
berlainan dengan kebudayaan daerah," katanya. Selanjutnya, kata Ajip,
ada yang menganggap bahwa gamelan bukanlah musik Indonesia dan yang
dianggap musik nasional adalah keroncong.
Ajip mengungkapkan, telah
tumbuh anggapan bahwa teater nasional ialah drama dipentaskan seperti
drama-drama eropa yang berdasarkan teks tertulis sementara wayang,
lenong, longser, dan ketoprak tidak dianggap sebagai teater Indonesia.
"Masalah yang dihadapi bangsa Indonesia sekarang masih juga menyuarakan
masalah yang sudah dipolemikkan pada waktu itu," katanya. Menurut Ajip,
masalah kebudayaan barat dan kebudayaan timur yang menjadi salah satu
pokok polemik sekarang sudah tidak begitu dipermasalahkan. Kata Ajip,
pada tahun 1970 yang menjadi tema polemik yang ramai ketika itu adalah
masalah modernisasi dan westerenisasi, sedangkan sekarang masalah
globalisasi lebih menjadi perhatian.
Sumber : http://nasional.kompas.com/read/2010/11/02/06443789/kebudayaan.nasional.masih.akan.dibentuk
Memang sudah
banyak yang mengumandangkan pentingnya menumbuh-suburkan kembali kearifan
budaya lokal. Misalnya tentang Kawruh-Kalang dan Petungan Jawa,
Hasta-Kosala-Kosali dan Tri Hita Karana Bali, Pela Gandong Ambon, dan
lain-lain. Namun kenyataannya kearifan budaya lokal yang sangat kaya dan
beragam di tanah air kita cenderung mandek, stagnan, karena kurang greget untuk
mentransformasikannya sesuai dengan tuntutan perkembangan jaman. Kebanyakan
lantas berhenti sekadar sebagai regressive identity dan tidak berkembang
menjadi progressive identity.
Pelestarian
bangunan kuno bersejarah pun lebih diartikan sebagai pengawetan (preservasi),
tanpa diikuti dengan upaya pemanfaatannya dengan memberi fungsi baru yang
tanggap terhadap dinamika perubahan (konservasi). Kurang gairah untuk
menciptakan karya baru yang menjadi tengeran semangat jaman, spirit of the Age
atau zeitgeist. Obsesi terhadap teknologi kian menguat, sedangkan upaya
pencarian makna budaya kian meluntur. Meminjam kata-kata John Naisbitt et al,
dalam bukunya “High Tech, High Touch: Technology and Our Search for Meaning.”
(1999) : “The Band-Aid culture of the quick fix is ultimately an empty one.”
Budaya potong kompas, siap saji, serba instan, mental menerabas
(Kuntjaraningrat) berpotensi kian melunturkan jatidiri. Upaya mentransformasi
kearifan budaya lokal untuk menghadapi tantangan global menjadi conditio sine
qua non agar kita tidak kehilangan jati diri sebagai bangsa multikultur yang
beradab.
Diskusi Panel
sebagai rangkaian kegiatan Dies Natalis Universitas Diponegoro ke 55. yang
mengangkat tema “Transformasi Kearifan Budaya Lokal Menghadapi Tantangan
Global”, diprakarsai Komisi Kebudayaan Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia
(KK-AIPI) bekerjasama dengan Forum Rektor Indonesia (FRI) dan Universitas
Diponegoro (UNDIP) Semarang ini akan dilaksanakan di : Pada hari Sabtu,
13 Oktober 2012, di Ruang Sidang Senat Universitas Diponegoro, Kampus Pleburan,
Jalan Imam Barjo SH no. 7, Semarang.
Diskusi,
bermaksud mengungkap permasalahan dan mencari upaya terobosan mentransformasi
kearifan budaya lokal yang tesebar di seluruh pelosok Nusantara, agar dari
hasil transformasi kearifan budaya lokal yang dikaji secara multi disiplin dan
transdisiplin itu dapat dikembangkan dan diterapkan dalam meningkatkan kualitas
kehidupan manusia di era global abad ke-21 ini”, antar Eko Budihardjo, pemerhati
pendidikan dan pakar arsitektur diawal acara.
Senada dengan
itu, Sekretaris Jenderal AIPI, Budhi M. Suyitno mencontohkan kebudayaan Korea
Selatan yang dikenal dengan nama K-Pop mulai merambah negara-negara lain di
dunia, termasuk Indonesia. "Kalau saya melihat, tarian ’Gangnam Style’
yang termasuk K-Pop itu hampir seperti Jathilan (kuda lumping). Kita juga punya
tarian kuda lumping. Bahkan, lebih bagus dibandingkan mereka (K-Pop),"
katanya.
Karena itu, ia
mengatakan Indonesia punya banyak sekali potensi kearifan lokal yang semestinya
dikelola dengan baik, dilestarikan, dan dikenalkan secara lebih luas kepada
dunia internasional. Melalui forum AIPI itu, kata dia, diharapkan banyak
pemikiran yang dihasilkan dari para pakar berkaitan dengan kearifan lokal, yang
selanjutnya akan menjadi rekomendasi dan masukan kepada Presiden. "AIPI
ini adalah lembaga yang berada di bawah Presiden berdasarkan Undang-Undang
Nomor 8/1990 tentang Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia. Hasil kajian ini akan
kami rekomendasikan pada Presiden," kata Budhi.
Hadir
Toeti Heraty Noerhadi, Ketua Komisi Kebudayaan AIPI membawakan
makalah kunci, dilanjutkan para panelis sesuai dengan disiplin ilmu
yang digulati masing-masing: Kusmayanto Kadiman, Bidang Teknologi; Edy
Suandi Hamid, Bidang Ekonomi; Ichlasul Amal- Bidang Sosial Politik;
Sudharto P.Hadi (Rektor Undip),- Bidang Lingkungan; Edi Sedyawati- Bidang
Kebudayaan; Franz Magnis Suseno (Budayawan- Bidang Filsafat; La Ode
Kamaludin (Rektor Unnisula)-Bidang Religi
Diskusi Panel
dengan moderator Satryo Soemantri Brodjonegoro dan Umar Anggara Jenie,
memandu jalannya diskusi yang dihadiri oleh anggota Komisi Kebudayaan
AIPI, anggota Komisi lain yang berminat; Wakil Kementerian/Lembaga terkait,
Para anggota Forum Rektor Indonesia, Rektor, Pembantu Rektor, Dekan serta Dosen
UNDIP dan Perguruan Tinggi lainnya sekitar Semarang Jawa Tengah, LSM terkait,
Pegiat dan Pemerhati Kebudayaan.
Prof Laode
menyampaikan bahwa tidak semua kearifan Budaya Lokal itu baik di era
Globalisasi saat ini banyak kekhawatiran bahwa budaya lokal akan punah,
sehingga banyak pula yang mempertahankan dan melestarikan kearifan budaya
lokal, namun ternyata tidak semua budaya lokal itu baik dan bisa diangkat
secara global, karena ada beberapa kearifan lokal yang justru merusak tatanan
masyarakat ketika itu dilestarikan. Oleh sebab itu Agama dalam hal ini Islam
sebagai Rahmatan lil Alamin harus menjadi penyaring bagi budaya yang kurang
baik. “Agama adalah backbon dari suatu kearifan lokal karena tidak semua
kearifan lokal itu bisa diangkat secara global contohnya ada budaya disuatu
daerah sebelum mengambil keputusan mereka selalu melakukan ritual minum-minuman
keras, sampai mabok-mabokan, sesudah itu mereka baru mengambil keputusan.
budaya seperti ini harus disaring oleh agama, nah agama yang mengatur dalam
mengambil keputusan harus dalam kondisi yang baik sementara minuman keras
adalah budaya yang tidak relevan dengan persoalan-persoalan yang sifatnya
global itu. Dalam konteks ini Islam sebagai agama rahmatan lil alamin menjadi
jawaban atas semua ini” jelas Rektor Unissula tersebut.
Prof Laode yang
juga ketua Forum Rektor Indonesia (FRI) 2013 menambahkan, pentingnya
peran teknologi informasi seperti internet untuk menyampaikan pesan-pesan
budaya lokal tersebut.“Yang jadi permasalahan adalah konten atau message yang
mau disampaikan melalui teknologi itu yang kemudian agama memperkuatnya
sehingga bisa diseleksi informasi-informasi yang cocok dengan budaya-budaya
local khususnya masyarakat Indonesia. Karena Indonesia saat ini merupakan
Negara pengguna Internet Terbesar ke empat setelah Cina, India dan Jepang yakni
30,9%”. Tandas Pria lulusan IOWA University Amerika Serikat tersebut.
Luaran
yang ditargetkan adalah merumuskan Masukan, Rekomendasi dan Pandangan AIPI atas
hasil transformasi kearifan budaya lokal yang dikaji secara multi disiplin dan
transdisiplin itu dapat dikembangkan dan diterapkan dalam meningkatkan kualitas
kehidupan manusia di era global abad ke-21 ini”, ujar Eko Budihardjo, anggota
Komisi Kebudayaan selaku ketua pelaksana di sessi rangkuman dan
penutupan. ***(ifa/keb-aipi/biroiptek/X/2012)
Archiv
alasan pemmbuatan blog
(1)
Album
(2)
BUDAYA
(2)
HUMOR SUFI
(2)
MOTIVASI
(18)
Original Texs
(4)
PENDIDIKAN
(14)
puisi menyejukkan
(8)
Tips dan Kesehatan
(12)
UMUM
(12)


